Mungkinkah Saat ini Melahirkan Insan Kamil Melalui Lembaga Pendidikan Formal?

Secara umum, tujuan pendidikan ada dua, pertama bertujuan untuk kemasyarakatan, dalam arti untuk mewujudkan individu yang mampu memenuhi tuntutan yang ada di tengah masyarakat dalam upaya menciptakan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan,  kedua bertujuan untuk melahirkan manusia yang baik yaitu manusia yang memiliki kesadaran dan pemahaman yang kuat tentang eksistensi Allah sebagai Rab Al-Alamin, dan realitas kehidupan, serta tujuan dan tugas kehidupannya. Figur utama manusia yang baik adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah suri tauladan utama bagi siapa saja yang menginginkan kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Pada dirinya terdapat sifat-sifat mulia yang menjadi dambaan setiap manusia yang mencintai kebaikan. Muhammad adalah seorang yang dikenal sangat jujur dalam perkataan dan perbuatan. Muhammad sangat bisa dipercaya, ia mampu memegang teguh kepercayaan dengan penuh tanggung jawab. Muhammad juga sangat cerdas, baik intelektual, emosional, apalagi spritual. Ia juga seorang komunikator yang sangat brilian, mampu mengkomunikasikan ide-ide besar dan pemikiran-pemikiran agung secara sederhana dan sangat mudah dipahami oleh semua orang. Muhammad adalah pemimpin yang bijaksana, panglima perang yang gagah berani, namun sangat penyantun dan penuh belas kasih terhadap orang-orang lemah. Hanya dalam dua puluh tahun lebih, dengan izin Allah, beliau telah berhasil menghadirkan suatu masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan. Sosok seperti beliau sering disebut oleh para ulama dan cendekiawan muslim sebagai insan kamil.
Kini, kehadiran sosok insan kamil sungguh sangat dirindukan oleh hampir semua kalangan. Ketika krisis multi dimensional nyaris melalap habis hampir semua sendi kehidupan masyarakat yang baik, sosok insan kamil diharapkan bisa menjadi solusi. Saat ini masyarakat bingung dan tidak tahu arah, kemana harus mencari orang yang jujur, bisa dipercaya, cerdas, komunikatif, berani dan sangat penyayang kepada orang-orang yang lemah lagi tertindas. Sosok yang banyak ditemukan oleh masyarakat saat ini adalah sosok yang pembohong, lain di hati lain di lidah, sebelum berkuasa katanya akan menegakkan keadilan bagi semua, setelah berkuasa ternyata ia hanya mampu berlaku adil pada dirinya dan orang –orang terdekat.
Harapan masyarakat banyak tertumpah kepada lembaga pendidikan formal. Lembaga pendidikan formal diharapkan mampu melahirkan sosok insan kamil. Namun harapan tersebut nyaris seperti orang mengantang asap, yang dihitung banyak, tapi yang didapat hanyalah fatamorgana. Kondisi lembaga pendidikan formal di Indonesia saat ini secara umum sungguh sangat memprihatinkan. Realitas yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar lembaga pendidikan formal lebih banyak menyibukkan diri dengan segala hal yang berkaitan dengan kesuksesan siswa-siswinya dalam menghadapi ujian nasional. Bahkan tidak sedikit lembaga pendidikan formal yang kehilangan rasa percaya diri, sehingga terpaksa minta bantuan kepada lembaga lembaga bimbingan belajar yang memang sangat marak saat ini. Kondisi tersebut di atas semakin parah, ketika guru-guru yang diharapkan akan memberi pendidikan yang baik tidak peduli lagi dengan upaya pembentukan karakter anak didiknya melalui internalisasi nilai-nilai kebaikan dan ketauladanan. Kisah tentang guru yang membantu anak didiknya untuk menjawab soal  dalam ruang ujian bukan lagi cerita yang aneh. Materi pelajaran di lembaga pendidikan formal lebih banyak memberi penekanan pada dimensi material, tapi abai pada materi yang berdimensi emosinal dan spritual. Lingkungan belajar juga sangat memprihatinkan, tontonan yang sarat dengan pemuasan syahwat rendah, sadisme, mistisisme, dan ajakan untuk bersikap permisif dan hedonis hampir setiap waktu menjadi tontonan dan tuntunan bagi anak-anak dirumah. Minuman keras dan bacaan porno, bahkan narkoba sangat mudah diakses oleh anak-anak.    orang tua tidak memiliki kesadaran akan pentingnya pedidikan karakter bagi anak-anaknya atau mengira bahwa sekolah sudah memberikan pendidikan karakter kepada anak-anaknya, sehingga mereka bisa berlepas tanggung jawab.
Mencermati kondisi lembaga pendidikan formal saat ini, sebuah pertanyaan muncul, mungkinkah sosok insan kamil lahir melalui lembaga pendidikan formal. Kalau tidak mungkin, apa yang perlu dilakukan bangsa ini supaya tidak menjadi bangsa yang terbelakang dan tertindas.

Definisi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib Al- Attas

I.    Pendahuluan
A.    Latar belakang masalah
Permasalahan definisi ilmu adalah salah satu permasalahan mendasar yang perlu mendapat perhatian penuh dari para sarjana muslim karena hal ini akan berimplikasi pada pilihan sistem pendidikan , kurikulum, dan metode pembelajaran.
Mendefinisikan sesuatu atau objek ilmu pengetahuan merupakan suatu kegiatan intelektual yang sangat dihargai oleh semua aliran pemikiran dalam Islam. Syed Muhammad Naquib Al- Attas menjelaskan bahwa salah satu indikasi kebangkrutan intelektualitas kalangan muslim modernis adalah ketiadaan ilmu mengenai bagaimana cara mendefinisikan sesuatu dengan cara-cara yang wajar, sedangkan ilmu yang seperti ini adalah ciri utama dan merupakan salah satu pencapaian terbesar tradisi intelektual Islam.
Syed Muhammad Naquib Al- Attas berkeyakinan bahwa permasalahan mendasar berkaitan dengan lemahnya persatuan dan kesatuan umat Islam bisa diselesaikan jika terdapat kesatuan pemahaman di antara sarjana muslim mengenai ide-ide dan konsep-konsep fundamental yang berkaitan dengan Islam dan peradaban umat .
B.    Rumusan masalah
Makalah ini akan membahas masalah-masalah sebagai berikut:
1)    Apa devinisi ilmu secara linguistic
2)    Apa definisi ilmu menurut ilmuwan muslim
3)    Apa devinisi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas

C.    Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan seputar definisi ilmu, definisi ilmu secara linguistic, definisi ilmu menurut ilmuwan muslim, dan definisi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Tulisan ini diharapkan bermanfaat untuk mengembangkan wawasan penulis dan pembaca tulisan ini berkaitan dengan permasalahan ilmu di dalam Islam.
II.    Pembahasan
A.    Biografi singkat Syed Muhammad Naquib Al- Attas
Syed Muhammad Naquib Al- Attas lahir di Jawa Barat, Indonesia, 5 september 1931. Ibundanya,  Syarifah Raquan Al- ‘Aydarus, berasal dari Bogor, Jawa Barat. Bapaknya,  Syed Ali Al- Attas adalah anak dari Ruqayah Hanum, seorang wanita Turki berdarah aristokrat yang menikah dengan Ungku Abdul Majid, adik sultan Abu Bakar dari Johor, (w. 1895).
Pada usia lima tahun Syed M. Naquib Al Attas dikirim ke Johor untuk belajar di sekolah dasar Ngee Heng (1936-1941). Pada masa pendudukan Jepang, dia kembali ke Indonesia untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Al- Urwatu Al- Wutsqa’, Sukabumi (1941-1945), sebuah lembaga pendidikan yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Tahun 1946 , Syed M. Naquib Al- Attas kembali ke Johor untuk merampungkan pendidikannya di Bukit Zahrah School dan English Colloge (1946-1951).
Setelah menamatkan sekolah menengah, tahun 1951, Al- Attas mendaftar di resimen Melayu sebagai kadet dengan nomor 6675. Al Attas kemudian dipilih untuk mengikuti pendidikan mileter, pertama di Eton Hall, Chester, Wales, kemudian di Royal Military Academy, Sandhurst, Inggris (1952-1955). Selama di Inggris Al- Attas berusaha memahami aspek-aspek yang mempengaruhi semangat dan gaya hidup masyarakat Inggris.
Setamat dari Sandhurst, Al- Attas bertugas sebagai pegawai kantor di resimen tentara kerajaan Malaya, Federasi Malaya. Minatnya yang kuat untuk menggeluti dunia ilmu pengetahuan mendorongnya untuk berhenti secara suka rela sebagai pegawai dan memasuki Universitas Malaya, ketika itu terletak di Singapura, tahun (1957-1959). Al- Attas  telah menulis dua buah buku ketika masih menyelesaikan program SI di Universitas Malaya. Buku pertama berjudul Rangkaian Ruba’iyat, buku kedua berjudul Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays, diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Sosialogi Malaysia pada tahun 1963.
Sebagai penghargaan atas bukunya yang kedua, pemerintahan Kanada, melalui Canada Council Fellowship memberinya bea siswa untuk belajar di Institut of Islamic Studies, Universitas McGill, Montreal, Kanada, selama tiga tahun, tahun 1960-1962. Al- Attas meraih gelar M.A dari Universitas McGill tahun 1962 setelah tesisnya yang berjudul Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh, lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.
Tahun 1965 Al-Attas meraih gelar Ph.D. dari Universitas London, setelah disertasinya yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fanshuri lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.
Al-Attas adalah pembicara dan peserta aktif dalam Konferensi Dunia Pertama mengenai Pendidikan Islam ( First World Conference on Islamic Education) di Makkah tahun 1977, dan dia ditunjuk untuk memimpin komite yang membahas tujuan dan definisi pendidikan Islam.
Dia telah menyampaikan 400 makalah ilmiah di Negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, Timur Jauh, dan di beberapa Negara Islam. Itulah sekelumit perjalanan hidup dan perjalanan intelektual salah seorang ilmuwan muslim terkemuka di dunia.

B.    Defininisi ilmu secara linguistik
Secara linguistik, kata ‘ilm berasal dari akar kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari kata ‘alamah yang berarti tanda, penunjuk, indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal, kognisi, label, cirri-ciri, dan tanda-tanda. Dengan demikian , ma’lam berarti rambu-rambu, atau sesuatu yang membimbing seseorang. Seiring dengan itu, ‘alam juga bisa diartikan sebagai penunjuk jalan. Itulah sebabnya kata ayat dalam Al Quran yang secara literal  berarti tanda, merujuk pada ayat-ayat Al Quran dan fenomena alam. Disebabkan hal diatas, umat Islam sejak dahulu menganggap ‘ilm berarti Al Quran, syariat, sunnah, Islam, iman, ilmu spiritual, hikmah, ma’rifah, cahaya, fikiran, sains, dan pendidikan, yang semuanya menghimpun seluruh hakekat ilmu. Inilah yang menjadi dasar umat Islam dalam mendefinisikan ilmu secara deskriptif .

C.    Definisi ilmu menurut ilmuwan muslim
Salah satu definisi ilmu secara deskriptif dikemukakan oleh Al – Baqillani, ilmu menurut beliau adalah “pencerapan objek yang diketahui sebagaimana adanya”. Al Amidi mengkritik definisi ilmu yang dikemukakan oleh Al- Baqillani ini dalam bukunya Abkar Al- Afkar . Al-Baqillani berpendapat bahwa definisi ilmu menurut Al-Amidi tidak inklusif karena tidak mencakup ilmu Tuhan, dan bersifat tautologi, karena objek yang diketahui itu lebih kabur daripada ilmu itu sendiri.
Wan Mohd Wan Daud mengkritisi kritikan Al- Amidi terhadap definisi ilmu dari Al-Baqillani, beliau menjelaskan bahwa ilmu Allah bukanlah ma’rifah. Setiap muslim yang dewasa dan berakal mengetahui bahwa bahwa ilmu Allah tidak terbatas, sesuai dengan diriNya yang tidak terbatas, oleh karena itu mustahil mendefinisikan atau membatasi ketidakterbatasan ilmu Allah SWT. Sedangkan mengenai kekaburan sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Amidi, sebenarnya adalah sesuatu yang relative, bergantung pada istilah yang dipilih oleh orang yang mendefinisikan ilmu secara deskriptif .
Definisi ilmu secara deskriptif juga dikemukakan oleh Abu Bakar Ibnu Furak, Ibnu furak berpendapat bahwa ilmu adalah “ sesuatu yang dengannya seseorang yang memilikinya mampu bertindak dengan baik dan benar”. Al –Amidi  mengkritik definisi ilmu yang dikemukakan Ibnu Furak ini karena semata-mata merefleksikan aspek-aspek deskriptif dari suatu definisi . selanjutnya Al-Amidi menyangkal adanya kemungkinan bahwa ilmu mengenai diri kita, Allah SWT, dan perkara-perkara yang abstrak akan memberi kita kemampuan untuk bertindak dengan benar.
Setelah mengkritik beberafa definisi ilmu diatas, Al-Amidi berpendapat bahwa ilmu bisa didefinisikan dengan batasan sebagai berikut: ilmu adalah sifat yang dengannya jiwa orang yang memiliki sifat ini bisa membedakan realitas yang tidak tercerap oleh indra-indra jiwa, hingga menjaganya dari derita, ketika itu, ia sampai pada kondisi yang tidak memungkinkan sesuatu yang dibedakan itu berbeda dari cara-cara yang darinya perbedaan itu diperoleh”.

D.    Definisi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas
Al-Attas menyadari sepenuhnya bahwa mendefinisikan ilmu secara batasan adalah sesuatu yang mustahil, karena itu dia mengajukan definisi ilmu secara deskriptif. Definisi ilmu secara deskriptif yang dikemukakan oleh Al-Attas berdasarkan premis bahwa ilmu datang dari Allah dan diperoleh oleh jiwa yang kreatif. Al-Attas membagi definisi ilmu secara deskriptif menjadi dua bagian. Pertama ilmu adalah sesuatu yang berasal dari Allah, bisa dikatakan bahwa ilmu itu adalah datangnya makna sesuatu atau objek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu. Kedua, ilmu adalah sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, bisa dikatakan bahwa ilmu adalah sampainya jiwa pada makna sesuatu atau objek ilmu.
Konsep  penting yang terdapat dalam definisi, epistemology, dan filsafat pendidikan Al-Attas adalah kedatangan, yaitu proses yang disatu pihak memerlukan mental yang  aktif dan persiapan spiritual, dipihak lain keridhaan dan kasih-sayang Allah SWT sebagai zat yang memberikan ilmu. Definisi ilmu yang ditawarkan Al-Attas mengisyaratkan bahwa pencapaian ilmu dan pemikiran, yang juga disebut proses perjalanan jiwa kepada makna, adalah sebuah proses spiritual. Realitas makna yang independen ini dengan sendirinya menjadikan ilmu yang dicari lebih dari sekedar kumpulan fakta, ketrampilan, atau sikap-sikap pribadi, seperti yang sekarang sedang popular di dunia pendidikan, miskipun tidak dapat dinafikkan bahwa ilmu terdiri dari salah satu atau kombinasi dari ketiganya.
Al-Attas menerima deskripsi yang berlaku bahwasanya ilmu adalah kepercayaan yang benar. Miskipun demikian , dia juga mengatakan bahwa kepercayaan yang benar itu dalam perspektif Islam bukan hanya suatu proposisi, melainkan juga sesuatu yang bersifat intuitif, yaitu salah satu aspek dari kapasitas intelektual manusia. Ilmu mengenai Allah misalnya, tidak dapat dibatasi oleh proposisi-proposisi dan disimbolkan dalam bentuk-bentuk linguistic yang mendeskripsikan Nama-Nama dan Sifat-Sifatnya. Pada tingkat yang lebih tinggi, ilmu mengenai Allah adalah pengalaman ketika seseorang bersatu dengan Realitas , dan inilah arti sebenarnya dari ilmu ini.

III.    Kesimpulan
1)    Ilmu secara linguistic berarti Al Quran, syariat, sunnah, Islam, iman, ilmu spiritual, hikmah, ma’rifah, cahaya, fikiran, sains, dan pendidikan, yang semuanya menghimpun seluruh hakekat ilmu .
2)    Ada perbedaan definisi ilmu secara batasan di kalangan ilmuwan muslim, tapi mereka sepakat bahwa ilmu di dalam Islam membimbing orang yang mendapatkannya untuk melakukan segala sesuatu dengan baik dan benar.
3)    ilmu secara deskriptif yang dikemukakan oleh Al-Attas berdasarkan premis bahwa ilmu datang dari Allah dan diperoleh oleh jiwa yang kreatif. Al-Attas membagi definisi ilmu secara deskriptif menjadi dua bagian. Pertama ilmu adalah sesuatu yang berasal dari Allah, bisa dikatakan bahwa ilmu itu adalah datangnya makna sesuatu atau objek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu. Kedua, ilmu adalah sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, bisa dikatakan bahwa ilmu adalah sampainya jiwa pada makna sesuatu atau objek ilmu.

Demikianlah sekilas pandangan sebagian ilmuwan muslim berkaitan dengan definisi ilmu.Semoga tulisan singkat yang membicarakan definisi ilmu menurut Syed M. Naquib Al Attas ini memberi manfaat bagi penulis dan orang-orang yang membacanya.
Daftar Rujukan :

Nor Wan Daud, Wan Mohd, 1998, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Syed M. Naquib Al Attas, Mizan, Bandung
Ravertz, R,Jerome, 2009, Filsafat Ilmu, Sejarah dan Ruang lingkup Bahasan, Pusataka Pelajar, Yogyakarta
Soleh, Khudari, 2004, Wacana baru Filsafat Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Sejarah Ringkas Pondok Pesantren Modern Diniyyah Pasia

A.    Pendahuluan
Pondok Pesantren Diniyyah Pasia yang selanjutnya disingkat dengan PPMD Pasia adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang terletak di kenagarian Pasia, kecamatan Ampek Angkek, kabupaten Agam, propinsi Sumatera Barat. PPMD pada awalnya bernama Madrasah Diniyyah Pasia yang didirikan pada tanggal 11 oktober 1928.
PPMD Pasia saat ini termasuk salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Sumatera Barat, hal ini tampak dari tingginya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka di PPMD Pasia, prestasi akademis yang dicapai, dan kunjungan – kunjungan pejabat pemerintah setingkat mentri, serta kunjungan tamu dari Negara jiran Malaysia.
Santri – santri PPMD Pasia pada tahun ajaran 2010-2011 berjumlah lebih kurang 550 orang yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera selatan. Tidak kurang dari 250 orang calon santri mengikuti ujian masuk setiap tahunnya, akan tetapi tidak semua bisa diterima karena keterbatasan sarana prasarana pendukung.
Tenaga pendidik dan kependidikan PPMD Pasia berjumlah 64 orang, 20 orang dari mereka berdomisili di rumah-rumah dinas yang tersedia di dalam kampus. Guru-guru yang berdomisili di dalam kampus berfungsi sebagai pembimbing santri di asrama dan sebagai pengasuh santri di dalam berorganisasi. Sebagian guru – guru yang berdomisili di kampus merupakan alumni dari Pondok Modern Gontor dan sebagian lainnya adalah alumni dari PPMD Pasia.
Kurikulum PPMD Pasia adalah perpaduan dari kurikulum Pondok Modern Gontor dan kurikulum madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah. Pengajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris mendapat perhatian penuh dan dilaksanakan sebagaimana di Pondok Modern Gontor. Latihan berpidato dalam bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia dilaksanan setiap hari kamis  dan sabtu. Semua santri dan santriwati bertempat tinggal di dalam kampus masing-masing yang terpisah cukup jauh.
Sarana prasarana pendukung proses pendidikan di PPMD Pasia sudah cukup memadai. Kampus PPMD terdiri dari kampus putra dan kampus putri. Setiap kampus memiliki asrama tiga lantai yang mampu menampung 250 orang santri, masjid, ruang makan, ruang belajar yang cukup repsentatif, dan laboratorium IPA , laboratorium bahasa, dan laboratorium komputer.
Pemimpin PPMD Pasia sekarang adalah Drs. H. Nawazir Muchtar, Lc. Beliau adalah alumni Pondok Modern Gontor, IAIN Syarif Hidayatullah, dan international call colloge Tripoli, Libia.
Makalah ini selanjutnya akan mencoba menggambarkan sejarah perkembangan PPMD Pasia sejak pertama kali didirikan sampai saat ini. Sejarah perkembangan PPMD Pasia meliputi masa perintisan dan perkembangannya pada zaman penjajahan Belanda, masa-masa sulit zaman penjajahan Jepang, dan berdirinya PPMD Pasia.

B.    Masa perintisan pada zaman penjajahan Belanda.
Sumatera Barat pada awal abad ke 20 dipenuhi oleh semangat kemajuan dalam arti modernisasi pemikiran. Salah satu bentuk modernisasi yang dilakukan oleh para ulama adalah dengan mendirikan lembaga – lembaga pendidikan Islam yang dikelola secara modern.
Pada tahun 1909, Syeikh Abdullah Ahmad mendirikan Adabiyah School Padang, sebuah sekolah modern yang terinspirasi dari Iqbal school singapura. Kemudian berdiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan Parabek.
Kehadiran lembaga pendidikan Islam yang modern di Padang dan Padang Panjang mendorong H. Muhammad Nur Isa, murid dari syekh Muhammad Cangkiang, cucu seorang ulama paderi terkenal, tuangku nan tuo di Koto Tuo, ampek angkek, untuk mendirikan sebuah madrasah yang beliau namakan Madrasah Diniyyah Pasia.
Madrasah Diniyyah Pasia yang berdiri pada tanggal 11 oktober 1928 ini memakai sistem klasikal dengan kurikulum yang sudah cukup modern, tidak membedakan antara pelajaran umum dan pelajaran agama. Pelajaran bahasa asing selain bahasa Arab sudah mulai diajarkan , murid- murid dilatih berpidato sekali dalam seminggu.
Program pendidikan Madrasah Diniyyah Pasia ditempuh selama delapan tahun, diawali dari kelas I-A, I-B, kemudian kelas II, III, IV, V, VI, dan kelas VII, sebagai kelas akhir. Siswa kelas akhir diwajibkan mengikuti ujian akhir yang pengujinya berasal dari kalangan ulama terkemuka pada waktu itu.
Murid-murid laki-laki dan murid-murid perempuan berada dalam satu kelas, tapi tidak bisa saling memandang karena dibatasi hijab dari kain. Murid murid tidak tinggal di asrama, tapi tinggal di rumah masing-masing dan berjalan kaki ke sekolah. Murid-murid libur setiap hari sabtu , karena  hari sabtu adalah hari pasar di kota Bukittinggi dan guru- guru sebagian besar berdagang pada hari sabtu, demikian pula dengan murid-murid.
Proses pendidikan di Madrasah Diniyyah Pasia pada zaman penjajahan Belanda berjalan dengan baik, murid- murid berdatangan dari kampung-kampung sekitar nagari Pasia. Tingginya minat orang-orang kampung untuk sekolah, mamaksa Madrasah Diniyyah Pasia untuk mengadakan pelajaran pagi dan pelajaran sore. Keadaan ini berlangsung sampai datangnya zaman penjajahan Jepang.
C.    Masa-masa sulit pada zaman penjajahan Jepang.
Zaman penjajahan Jepang adalah masa yang penuh kesulitan dan penderitaan, Madrasah Diniyyah menghadapi kesulitan keuangan untuk operasional sekolah. Murid-murid tidak sanggup membayar iuran sekolah, sehingga honor guru tidak bisa dibayarkan. Pemberlakuan  kerja paksa ( Romusa ) untuk kepentingan penjajah semakin mempersulit keadaan.
Pengurus sekolah terpaksa menutup sementara proses pendidikan. Namun hal ini tidak berjalan lama, lebih kurang hanya sepuluh hari. Simpatisan Madrasah Diniyyah dan para alumninya mengadakan musyawarah untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh Madrasah Diniyyah. Musyawarah ini berhasil mencarikan jalan keluar dari permasalahan finansial yang sedang dihadapi Madrasah Diniyyah. Para alumni dan simpatisan Madrasah Diniyyah sepakat untuk menggalang dana bersama untuk menjaga kelangsungan Madrasah Diniyyah.
D.    Berdirinya Pondok Pesantren Modern Diniyyah Pasia .
Kondisi lembaga-lembaga pendidikan Islam di Sumatera barat pada akhir tahun 1980-an bagaikan kerakap di atas batu, hidup segan,  mati tak mau. Keharusan mengadopsi kurikulum yang ditetapkan pemerintah menimbulkan dampak yang serius terhadap eksistensi lembaga-lembaga pendidikan Islam di Sumatera Barat. Penurunan kualitas alumni terutama dalam penguasaan ilmu-ilmu keislaman berdampak pada penurunan minat masyarakat untuk memasuki sekolah Islam. Di sisi lain ketidakmampuan menguasai ilmu-ilmu umum menjadikan lembaga-lembaga pendidikan Islam sebagai lembaga pendidikan kelas dua.
Madrasah Diniyyah, sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang dikelola oleh masyarakat juga menghadapi permasalahan yang sama. Jumlah murid menurun drastis dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990, jumlah murid tinggal belasan orang, guru-guru mulai berpindah ke sekolah lain atau menjadi pegawai negeri. Keadaan ini sangat memprihatinkan para simpatisan dan alumni madrasah diniyyah Pasia.
Pada tanggal 18 september 1991, para alumni dan simpatisan madrasah diniyyah berkumpul untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh madrasah diniyyah. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk membentuk yayasan pengembangan diniyyah, sebagai badan hukum yang bertindak sebagai badan penyelenggara dari lembaga pendidikan yang diberi nama Pondok Pesantren Modern Diniyyah Pasia disingkat PPMD Pasia.
Semenjak didirikan pada tanggal 18 september 1991, PPMD Pasia terus mengalami kemajuan yang sangat pesat di berbagai bidang. Bermula dari 30 orang santri pada pada tahun awal, sekarang santri PPMD telah berjumlah 550-an santri. Minat masyarakat sangat tinggi untuk masuk pesantren, setiap tahun, ratusan calon santri datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat, Jambi, Riau, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Tidak semua yang mendaftar bisa diterima karena keterbatasan tenaga dan sarana pendidikan.
PPMD Pasia semenjak didirikan, dipimpin oleh Drs. H. Nawazir Muchtar, Lc. Penutup
Demikianlah sekilas sejarah berdirinya PPMD Pasia dan perkembangannya, semoga catatan sejarah yang ada ini bisa dipakai sebagai kaca perbandingan dalam upaya meningkatkan kualitas lembaga-lembaga pendidikan Islam di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
PMD,  80 Tahun Perguruan Diniyyah Pasia, Bukittinggi, PPMD, 2008
Hamka, Islam dan Adat Minangkabau, Jakarta, Pustaka Panjimas, 1984
Hamka, Ayahku, Jakarta, Umminda, 1982

Konsep Pendidikan Islam di Indonesia

Konsep Pendidikan Islam di Indonesia
A.    Pendahuluan
Konsep dapat berarti ide umum, pengertian, pemikiran, rancangan, dan rencana dasar. Pendidikan menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah proses perubahan tingkah laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui proses pengajaran dan pelatihan. Syed Naquib Al-Attas dalam mendefinisikan pendidikan Islam merujuk kepada hadis yang berbunyi: “ Tuhan telah mendidikku( addabani yang secara literal berarti telah menanamkan adab pada diriku), maka sangat baiklah mutu pendidikanku (ta’dibi).  Pendidikan Islam menurut Al-Attas adalah penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang, disebut dengan ta’dib. Adab menurut Al-Attas adalah pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwasanya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hierarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang  memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual, dan spritualnya.
Konsep pendidikan Islam dapat diartikan sebagai rencana dasar  untuk melahirkan insan kamil atau manusia sempurna, yaitu manusia yang memahami dengan baik tugas dan kewajibannya kepada Tuhan, menegakkan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat, dan selalu berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya, menuju kesempurnaan sebagai manusia beradab . Makalah ini akan membahas rencana dasar pendidikan Islam di Indonesia. Rencana dasar tersebut meliputi makna dan tujuan pendidikan Islam di Indonesia serta kurikulum dan sistem pendidikan Islam di Indonesia.
B.    Makna dan tujuan pendidikan Islam di Indonesia.
Arti kata pendidikan dalam kamus bahasa Inggris, Oxford Learner’s Pocket Dictionary, adalah pelatihan dan pembelajaran (Education is training and instruction). Arti kata pendidikan menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah proses perubahan tingkah laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui proses pengajaran dan pelatihan.
Istilah pendidikan dalam bahasa Arab adalah ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib. Semua istilah tersebut biasa dipergunakan dengan pengertian yang sama, tapi Al-Attas mempunyai pendapat yang berbeda. Ia berpendapat bahwa ta’lim hanya berarti pengajaran, yang berarti  lebih sempit dari pendidikan, sedangkan  kata tarbiyah yang lebih luas dipergunakan sekarang di negara-negara Arab, terlalu luas.  Kata tarbiyah juga digunakan untuk binatang dan tumbuh-tumbuhan dengan pengertian memelihara atau membela, menternak dan lain-lain, adapun pendidikan yang diambil dari kata education  hanya untuk manusia saja . Pendidikan menurut Al-Attas adalah penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang, disebut dengan ta’dib. Adab menurut Al-Attas adalah pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwasanya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hierarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang  memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual, dan spritualnya.

Makna pendidikan menurut Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I, Pasal 1  adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.  Mahmud Yunus, salah seorang pakar pendidikan Islam Indonesia  menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk memberi pengaruh kepada anak didik dengan sarana-sarana terpilih sehingga anak didik bisa menjadi malaikat dalam wujud manusia. Pendapat Mahmud Yunus ini diikuti oleh muridnya, yaitu KH Imam Zarkasyi yang berusaha untuk merealisasikan konsep ini di lembaga pendidikan yang didirikannya.
Dari berbagai pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidikan Islam di Indonesia adalah usaha sadar dan terencana untuk melahirkan manusia sempurna sesuai dengan tuntunan Islam. Tujuan pendidikan Islam di Indonesia sebagaimana termaktub dalam undang-undang system pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
C.    Kurikulum dan Sistem Pendidikan Islam di Indonesia
Kurikulum yang dipakai oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia secara umum bisa dibagi tiga. Pertama adalah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman saja tanpa ada tambahan ilmu-ilmu umum sama sekali, seperti yang berlaku dalam sistem pendidikan pesantren salafi murni. Kedua adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan Ilmu-ilmu umum dengan tambahan pelajaran ilmu-ilmu keislaman, seperti yang terjadi dalam sistem madrasah yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Pelajaran keislaman di madrasah tersebut hanya berfungsi sebagai pelengkap. Ketiga adalah lembaga pendidikan yang mengawinkan sistem madrasah dengan sistem pesantren. Lembaga pendidikan tersebut tidak membedakan antara ilmu umum dan ilmu agama, ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu keislaman diajarkan seratus persen. Hal tersebut berlaku terutama di lembaga-lembaga pendidikan yang berafiliasi ke Pondok Pesantren Modern Gontor.
D.    Kesimpulan
Pengertian pendidikan Islam di Indonesia adalah usaha sadar dan terencana untuk melahirkan manusia sempurna sesuai dengan tuntunan Islam. Tujuan pendidikan Islam di Indonesia sebagaimana termaktub dalam undang-undang system pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Kurikulum dan sistem pendidikan Islam di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga macam. Pertama adalah yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman saja seperti dalam system pesantren salafi murni. Kedua adalah yang mengajarkan ilmu-ilmu umum dengan tambahan ilmu-ilmu keislaman sebagaimana berlaku di madrasah- madrasah yang dikelola pemerintah maupun swasta. Ketiga adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu umum dan ilmu keislaman seratus persen.
Lembaga pendidikan Islam di Indonesia dituntut untuk terus berbenah diri supaya mampu menghadirkan Islam yang menjadi rahmat bagi sekalian alam melalui dunia pendidikan. Semoga makalah singkat yang sangat sederhana ini bisa bermanfaat terutama bagi penulis dalam rangka memperluas horizon pemikiran dan pemahaman tentang realitas dunia pendidikan Islam di Indonesia saat ini.

DAFTAR PUSTAKA
DEPAG RI, Al Quran dan Terjemahannya. (Jakarta: Yayasan Penerjemah Al Quran, 1983).
Langgulung, Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam. (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2008).
Wan Daud, Wan Mohd Nor, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M Naquib Al-Attas. (Bandung: Mizan, 2003).
Syihab, Quraisy, Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu’I atas berbagai persoalan umat. ( Bandung: Mizan, 1996)

Kriteria dan Tugas Pendidik Perspektif QS Al-Baqarah ayat 151

Kriteria dan Tugas Pendidik

Perspektif QS Al Baqarah ayat 151  

 

  1. A.                Pendahuluan

Seorang pendidik mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan. Pendidik adalah tempat bertanya bagi anak didiknya ketika mereka tidak memhami suatu permasalahan. Pendidik adalah suri tauladan utama bagi anak didik dan mempunyai peranan sangat penting dalam proses pembentukan karakternya. Mengingat begitu pentingnya peran seorang pendidik dalam proses pendidikan, penulis memandang perlu upaya memahami kriteria dan tugas seorang pendidik menurut perspektif Al-Quran. Al-Quran adalah kitab suci yang memberi petunjuk kepada manusia jalan yang terbaik bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi mereka. Al-Quran mengandung pelajaran-pelajaran penting untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan.

Ayat-ayat Al-Quran yang mengandung pelajaran tentang pendidikan sangat banyak, salah satunya adalah ayat 151 surat Al-Baqarah yang menjelaskan tugas dan peran kerasulan yang berarti juga tugas dan peran seorang pendidik. Makalah ini akan berbicara tentang krteria dan dan tugas seorang pendidik perspektif QS Al_Baqarah ayat 151 yang terjemahannya sebagai berikut:

Sebagaimana telah Kami utus kepada kamu seorang Rasul , dari kalangan kamu sendiri, yang mengajarkan kepada kamu ayat-­ayat Kami dan membersihkan kamu dan akan mengajarkan ke­pada kamu Kitab dan Hikmat, dan akan mengajarkan kepada kamu perkara-perkara yang tidak kamu ketahui (QS Al Baqarah ayat 151).

Dilihat dari perspektif ilmu pendidikan, ayat di atas  menjelaskan kriteria dan tugas seorang pendidik.

B. Kriteria seorang pendidik perspektif QS Al Baqarah ayat 151  

1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang anak didiknya dan  mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien.

Kriteria pertama ini tersirat dari kata-kata “ dari kalangan kamu sendiri”, dalam ayat lain dikatakan “ dengan bahasa kaum mereka”. Seorang Rasul yang berasal dari kaumnya sendiri, diyakini memiliki pengetahuan yang mendalam tentang kaumnya dan kemampuan berkomunikasi yang bijak dan efektif. Hal tersebut sangat penting karena apabila seorang Rasul yang bertugas sebagai pendidik, tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang kaumnya, serta tidak mampu melakukan komunikasi yang bijak dan efektif, maka kemungkinan besar tugas kerasulannya akan gagal. Surat Al-Baqarah ayat 151 mengisyaratkan hal tersebut dengan kata-kata “ dari kalangan kamu sendiri”.

Demikian pula halnya dalam dunia pendidikan, pengetahuan dan pemahaman yang mendalam  seorang pendidik terhadap anak didiknya akan lebih menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Pengetahuan mendalam seorang pendidik tentang anak didik sangat membantu dalam memilih metode dan materi pendidikan yang sesuai dengan anak didik. Pemilihan materi dan metode pendidikan yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan peserta didik akan membuat proses pendidikan berjalan sesuai dengan harapan. Ketika proses pendidikan sudah berjalan sesuai dengan harapan, pencapaian tujuan pendidikan menjadi niscaya.

  1. 2.      Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat Allah.

Ayat berarti sinyal yang menunjukkan kepada sesuatu, seperti rambu-rambu yang menunjukkan kondisi jalan yang mendatar, menurun, atau mendaki. Ayat-ayat Allah adalah sinyal yang memberitahu tentang eksistensi dan keagungan Rab semesta alam, Allah SWT. Ayat-ayat Allah tersebut, terdapat dalam diri manusia dan alam semesta secara keseluruhan. Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan proses penciptaan dirinya, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan alam semesta secara keseluruhan.

Tujuan utama pendidikan adalah melahirkan manusia yang memahami dan menyadari eksistensi dirinya, alam semesta, dan Tuhan penciptanya serta memahami tugas dan kewajibannya terhadap diri, lingkungan, dan kepada Tuhan penciptanya. Seorang pendidik yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat Allah baik materi, fungsi, maupun tujuannya, akan mampu mentranformasikan nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat Allah kepada peserta didik secara optimal.

  1. 3.      Memiliki jiwa yang bersih

Keberhasilan seorang pendidik dalam melahirkan generasi yang baik tidak hanya ditentukan oleh kapasitas intelektual yang dia miliki, kesucian jiwanya mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam usahanya melahirkan generasi yang baik. Ibnu qayyim al jauzi menegaskan bahwa cahaya hanya akan muncul dari sesuatu yang bersinar. Sebesar cahaya yang dimiliki seseorang, sebesar itulah cahaya yang akan dia pantulkan. Seorang pendidik yang ingin mendidik sebuah generasi supaya memiliki kebersihan jiwa, haruslah memiliki jiwa yang bersih terlebih dahulu, karena rumah tidak bisa dibersihkan dengan sapu yang kotor.

4.      Memiliki ilmu tentang kitab Allah dan hikmah

Seorang pendidik seharusnya memiliki ilmu tentang  Al Quran dan hikmah. Al-Quran adalah kitab suci yang menunjukkan kepada manusia jalan yang terbaik baginya, Allah berfirman,  sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk kepada jalan yang terbaik (QS 16:44). Pendidik yang berkeinginan menunjukkan jalan terbaik bagi kehidupan anak didiknya dituntut untuk memiliki ilmu tentang kitab Allah (Al-Quran), karena disanalah seorang pendidik akan mendapatkan petunjuk kehidupan terbaik.

5.      Memiliki semangat kuat untuk mengembangkan diri, baik spiritual, intelektual, phisikal, maupun finansial.

Kehidupan manusia senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan seiring perkembangan peradaban manusia. Manusia yang tidak berupaya untuk melakukan usaha ke arah yang lebih baik sepanjang kehidupannya akan tergilas. Iqbal, seorang cendekiawan muslim terkemuka dari Pakistan mengatakan, “ static condition is death”, keadaan yang statis adalah kematian. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang beruntung adalah orang  yang kondisinya hari ini lebih baik dari kondisinya kemaren.

Seorang pendidik yang bertugas menyiapkan generasi masa depan, seyogyanya memiliki semangat kuat untuk mengembangkan diri sepanjang waktu.

  1. C.      Tugas seorang pendidik perspektif QS Al Baqarah ayat 151

           Tugas seorang pendidik berdasarkan telaah terhadap QS Al-Baqarah ayat 151 adalah sebagai berikut:

  1. 1.      Mengajarkan ayat-ayat Allah.

Ayat-ayat Allah meliputi ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah. Ayat-ayat kauniyah adalah ayat-ayat yang berbicara tentang fenomena kehidupan dan alam semesta. Pengetahuan manusia tentang hakikat dirinya dan alam semesta diharapkan akan membuatnya mengenal dan memahami Sang Pencipta. Pemahaman seseorang tentang eksistensi diri dan penciptanya diharapkan akan membuat seseorang mengetahui tugas dan kewajbannya sebagai manusia terhadap alam semesta dan Tuhannya.

  1. 2.      Mengajarkan Al-Quran dan hikmah.

Salah satu tugas utama seorang pendidik adalah mengajarkan Al-Quran dan hikmah. Pengajaran Al-Quran meliputi cara membacanya, kandungan maknanya, dan hikmah yang terdapat dalam ayat-ayatnya. Pemahaman anak didik terhadap makna dan hikmah yang terkandung dalam Al-Quran merupakan petunjuk terbaik bagi kehidupannya.

Al-Quran mempuyai fungsi dalam hidup dan kehidupan manusia sebagai berikut:

–          Membersihkan akal dan jiwa dari segala bentuk syirik.

–          Mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni bahwa umat manusia merupakan satu umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan tugas kekhalifahan.

–          Memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang[1]

  1. 3.      Mendidik anak didik agar memiliki kesucian jiwa.

Orang yang benar-benar terpelajar menurut Al-Attas adalah orang yang baik atau beradab, yaitu orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan yang haq, yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya, dan yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab[2].

Salah satu syarat utama dari manusia yang baik adalah memiliki kesujiwan jiwa, dalam arti memiliki akhlak yang terpuji dan terbebas dari akhlak yang tercela. Seorang pendidik memiliki tanggung-jawab untuk melahirkan generasi yang berakhlak mulia sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Pemikir-pemikir Islam berpendapat bahwa untuk mengobati pribadi yang sakit, harus dimulai dengan proses pembersihan (takhliyah) dari sifat-sifat tercela, diikuti dengan proses menghiasi (tahliyah) dengan sifat-sifat terpuji, yang dapat dijalankan melalui proses mujahadah. Caranya adalah melalui taubat dan menyesal terhadap dosa dan maksiat yang telah dibuatnya[3].

  1. 4.      Mempersiapakan anak didik agar memiliki masa depan yang cemerlang.

Tugas pendidik untuk mempersiapkan anak didik agar memiliki masa depan yang lebih baik tersirat dari kata-kata “dan akan mengajarkan kepada kamu perkara-perkara yang tidak kamu ketahui”. Pembelajaran tentang hal-hal yang belum diketahui sangat penting bagi anak didik, agar dia mampu menghadapi tantangan masa depan.

D.  Kesimpulan

Kriteria seorang pendidik yang terkandung dalam QS Al_Baqarah ayat 151 adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang anak didiknya dan  mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien.

2.      Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat Allah.

3.      Memiliki jiwa yang bersih

4.      Memiliki ilmu tentang kitab Allah dan hikmah

5.      Memiliki semangat kuat untuk mengembangkan diri, baik spiritual, intelektual, phisikal, maupun finansial.

Tugas seorang pendidik yang terkandung dalam QS Al_Baqarah ayat 151 adalah sebagai berikut:

  1. Mengajarkan ayat-ayat Allah.
  2. Mengajarkan Al-Quran dan hikmah.
  3. Mendidik anak didik agar memiliki kesucian jiwa.
  4. Mempersiapakan anak didik agar memiliki masa depan yang cemerlang.

Demikianlah kesimpulan yang bisa penulis ambil dari QS Al_Baqarah ayat 151 berkaitan dengan kriteria dan tugas pendidik perspektif Al-Quran. Semoga tulisan ini bermanfaat, terutama untuk pengembangan pemahaman penulis tentang ilmu dan dunia pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

DEPAG RI, Al Quran dan Terjemahannya. (Jakarta: Yayasan Penerjemah Al Quran, 1983).

Langgulung, Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam. (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2008).

Wan Daud, Wan Mohd Nor, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M Naquib Al-Attas. (Bandung: Mizan, 2003).

Syihab, Quraisy, Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu’I atas berbagai persoalan umat. ( Bandung: Mizan, 1996)

 

 

 

 

 

 

 


[1] Quraisy Syihab, Wawasan Al Quran, Tafsir Maudhu’I atas berbagai persoalan umat, ( Bandung: Mizan, 1996), hal 12-13

[2]Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, ( Bandung: mizan, 2003),  hal 174.

 

[3] Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta, Pustaka Al-Husna Baru, 2008), hal 267

Kriteria dan Tugas Pendidik
Perspektif QS Al Baqarah ayat 151

A. Pendahuluan
Seorang pendidik mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan. Pendidik adalah tempat bertanya bagi anak didiknya ketika mereka tidak memhami suatu permasalahan. Pendidik adalah suri tauladan utama bagi anak didik dan mempunyai peranan sangat penting dalam proses pembentukan karakternya. Mengingat begitu pentingnya peran seorang pendidik dalam proses pendidikan, penulis memandang perlu upaya memahami kriteria dan tugas seorang pendidik menurut perspektif Al-Quran. Al-Quran adalah kitab suci yang memberi petunjuk kepada manusia jalan yang terbaik bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi mereka. Al-Quran mengandung pelajaran-pelajaran penting untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan.
Ayat-ayat Al-Quran yang mengandung pelajaran tentang pendidikan sangat banyak, salah satunya adalah ayat 151 surat Al-Baqarah yang menjelaskan tugas dan peran kerasulan yang berarti juga tugas dan peran seorang pendidik. Makalah ini akan berbicara tentang krteria dan dan tugas seorang pendidik perspektif QS Al_Baqarah ayat 151 yang terjemahannya sebagai berikut:
Sebagaimana telah Kami utus kepada kamu seorang Rasul , dari kalangan kamu sendiri, yang mengajarkan kepada kamu ayat-¬ayat Kami dan membersihkan kamu dan akan mengajarkan ke¬pada kamu Kitab dan Hikmat, dan akan mengajarkan kepada kamu perkara-perkara yang tidak kamu ketahui (QS Al Baqarah ayat 151).
Dilihat dari perspektif ilmu pendidikan, ayat di atas menjelaskan kriteria dan tugas seorang pendidik.
B. Kriteria seorang pendidik perspektif QS Al Baqarah ayat 151
1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang anak didiknya dan mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien.
Kriteria pertama ini tersirat dari kata-kata “ dari kalangan kamu sendiri”, dalam ayat lain dikatakan “ dengan bahasa kaum mereka”. Seorang Rasul yang berasal dari kaumnya sendiri, diyakini memiliki pengetahuan yang mendalam tentang kaumnya dan kemampuan berkomunikasi yang bijak dan efektif. Hal tersebut sangat penting karena apabila seorang Rasul yang bertugas sebagai pendidik, tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang kaumnya, serta tidak mampu melakukan komunikasi yang bijak dan efektif, maka kemungkinan besar tugas kerasulannya akan gagal. Surat Al-Baqarah ayat 151 mengisyaratkan hal tersebut dengan kata-kata “ dari kalangan kamu sendiri”.
Demikian pula halnya dalam dunia pendidikan, pengetahuan dan pemahaman yang mendalam seorang pendidik terhadap anak didiknya akan lebih menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Pengetahuan mendalam seorang pendidik tentang anak didik sangat membantu dalam memilih metode dan materi pendidikan yang sesuai dengan anak didik. Pemilihan materi dan metode pendidikan yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan peserta didik akan membuat proses pendidikan berjalan sesuai dengan harapan. Ketika proses pendidikan sudah berjalan sesuai dengan harapan, pencapaian tujuan pendidikan menjadi niscaya.
2. Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat Allah.
Ayat berarti sinyal yang menunjukkan kepada sesuatu, seperti rambu-rambu yang menunjukkan kondisi jalan yang mendatar, menurun, atau mendaki. Ayat-ayat Allah adalah sinyal yang memberitahu tentang eksistensi dan keagungan Rab semesta alam, Allah SWT. Ayat-ayat Allah tersebut, terdapat dalam diri manusia dan alam semesta secara keseluruhan. Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan proses penciptaan dirinya, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan alam semesta secara keseluruhan.
Tujuan utama pendidikan adalah melahirkan manusia yang memahami dan menyadari eksistensi dirinya, alam semesta, dan Tuhan penciptanya serta memahami tugas dan kewajibannya terhadap diri, lingkungan, dan kepada Tuhan penciptanya. Seorang pendidik yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat Allah baik materi, fungsi, maupun tujuannya, akan mampu mentranformasikan nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat Allah kepada peserta didik secara optimal.
3. Memiliki jiwa yang bersih
Keberhasilan seorang pendidik dalam melahirkan generasi yang baik tidak hanya ditentukan oleh kapasitas intelektual yang dia miliki, kesucian jiwanya mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam usahanya melahirkan generasi yang baik. Ibnu qayyim al jauzi menegaskan bahwa cahaya hanya akan muncul dari sesuatu yang bersinar. Sebesar cahaya yang dimiliki seseorang, sebesar itulah cahaya yang akan dia pantulkan. Seorang pendidik yang ingin mendidik sebuah generasi supaya memiliki kebersihan jiwa, haruslah memiliki jiwa yang bersih terlebih dahulu, karena rumah tidak bisa dibersihkan dengan sapu yang kotor.
4. Memiliki ilmu tentang kitab Allah dan hikmah
Seorang pendidik seharusnya memiliki ilmu tentang Al Quran dan hikmah. Al-Quran adalah kitab suci yang menunjukkan kepada manusia jalan yang terbaik baginya, Allah berfirman, sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk kepada jalan yang terbaik (QS 16:44). Pendidik yang berkeinginan menunjukkan jalan terbaik bagi kehidupan anak didiknya dituntut untuk memiliki ilmu tentang kitab Allah (Al-Quran), karena disanalah seorang pendidik akan mendapatkan petunjuk kehidupan terbaik.
5. Memiliki semangat kuat untuk mengembangkan diri, baik spiritual, intelektual, phisikal, maupun finansial.
Kehidupan manusia senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan seiring perkembangan peradaban manusia. Manusia yang tidak berupaya untuk melakukan usaha ke arah yang lebih baik sepanjang kehidupannya akan tergilas. Iqbal, seorang cendekiawan muslim terkemuka dari Pakistan mengatakan, “ static condition is death”, keadaan yang statis adalah kematian. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang kondisinya hari ini lebih baik dari kondisinya kemaren.
Seorang pendidik yang bertugas menyiapkan generasi masa depan, seyogyanya memiliki semangat kuat untuk mengembangkan diri sepanjang waktu.
C. Tugas seorang pendidik perspektif QS Al Baqarah ayat 151
Tugas seorang pendidik berdasarkan telaah terhadap QS Al-Baqarah ayat 151 adalah sebagai berikut:
1. Mengajarkan ayat-ayat Allah.
Ayat-ayat Allah meliputi ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah. Ayat-ayat kauniyah adalah ayat-ayat yang berbicara tentang fenomena kehidupan dan alam semesta. Pengetahuan manusia tentang hakikat dirinya dan alam semesta diharapkan akan membuatnya mengenal dan memahami Sang Pencipta. Pemahaman seseorang tentang eksistensi diri dan penciptanya diharapkan akan membuat seseorang mengetahui tugas dan kewajbannya sebagai manusia terhadap alam semesta dan Tuhannya.
2. Mengajarkan Al-Quran dan hikmah.
Salah satu tugas utama seorang pendidik adalah mengajarkan Al-Quran dan hikmah. Pengajaran Al-Quran meliputi cara membacanya, kandungan maknanya, dan hikmah yang terdapat dalam ayat-ayatnya. Pemahaman anak didik terhadap makna dan hikmah yang terkandung dalam Al-Quran merupakan petunjuk terbaik bagi kehidupannya.
Al-Quran mempuyai fungsi dalam hidup dan kehidupan manusia sebagai berikut:
– Membersihkan akal dan jiwa dari segala bentuk syirik.
– Mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni bahwa umat manusia merupakan satu umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan tugas kekhalifahan.
– Memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang
3. Mendidik anak didik agar memiliki kesucian jiwa.
Orang yang benar-benar terpelajar menurut Al-Attas adalah orang yang baik atau beradab, yaitu orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan yang haq, yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya, dan yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab .
Salah satu syarat utama dari manusia yang baik adalah memiliki kesujiwan jiwa, dalam arti memiliki akhlak yang terpuji dan terbebas dari akhlak yang tercela. Seorang pendidik memiliki tanggung-jawab untuk melahirkan generasi yang berakhlak mulia sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.
Pemikir-pemikir Islam berpendapat bahwa untuk mengobati pribadi yang sakit, harus dimulai dengan proses pembersihan (takhliyah) dari sifat-sifat tercela, diikuti dengan proses menghiasi (tahliyah) dengan sifat-sifat terpuji, yang dapat dijalankan melalui proses mujahadah. Caranya adalah melalui taubat dan menyesal terhadap dosa dan maksiat yang telah dibuatnya .
4. Mempersiapakan anak didik agar memiliki masa depan yang cemerlang.
Tugas pendidik untuk mempersiapkan anak didik agar memiliki masa depan yang lebih baik tersirat dari kata-kata “dan akan mengajarkan kepada kamu perkara-perkara yang tidak kamu ketahui”. Pembelajaran tentang hal-hal yang belum diketahui sangat penting bagi anak didik, agar dia mampu menghadapi tantangan masa depan.
D. Kesimpulan
Kriteria seorang pendidik yang terkandung dalam QS Al_Baqarah ayat 151 adalah sebagai berikut:
1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang anak didiknya dan mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien.
2. Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat Allah.
3. Memiliki jiwa yang bersih
4. Memiliki ilmu tentang kitab Allah dan hikmah
5. Memiliki semangat kuat untuk mengembangkan diri, baik spiritual, intelektual, phisikal, maupun finansial.
Tugas seorang pendidik yang terkandung dalam QS Al_Baqarah ayat 151 adalah sebagai berikut:
1. Mengajarkan ayat-ayat Allah.
2. Mengajarkan Al-Quran dan hikmah.
3. Mendidik anak didik agar memiliki kesucian jiwa.
4. Mempersiapakan anak didik agar memiliki masa depan yang cemerlang.
Demikianlah kesimpulan yang bisa penulis ambil dari QS Al_Baqarah ayat 151 berkaitan dengan kriteria dan tugas pendidik perspektif Al-Quran. Semoga tulisan ini bermanfaat, terutama untuk pengembangan pemahaman penulis tentang ilmu dan dunia pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
DEPAG RI, Al Quran dan Terjemahannya. (Jakarta: Yayasan Penerjemah Al Quran, 1983).
Langgulung, Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam. (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2008).
Wan Daud, Wan Mohd Nor, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M Naquib Al-Attas. (Bandung: Mizan, 2003).
Syihab, Quraisy, Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu’I atas berbagai persoalan umat. ( Bandung: Mizan, 1996)

Bagaimana Buya Hamka belajar?

Akhir 1924 dalam usia 16 tahun Hamka berangkat ke tanah jawa, langsung ke Yokyakarta. Di sanalah dia berkenalan dan belajar pergerakan islam modren kepada H.O.S Cokroaminoto, Kibagus Hadikusumo, R.M Suryopranoto, dan H. Fakhrudin,yang kesemua beliau- beliau itu mengadakan kursus pergerakan di gedung abdi dharmo Pakualaman Yogyakarta. Di sanalah dia mengenal perbandingan antara gerakan politik Islam, yaitu syarikat islam dan gerakan sosial Muhammadiyah.

Setelah beberapa waktu lamanya di Yogya, dia berangkat ke Pekalongan menemui A.R Sutan Mansur, ketika itu beliau menjadi ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan. Juli 1925 Hamka kembali ke Padang Panjang dan turut mendirikan tabig Muhammadiyah di rumah ayahnya di Gatangan Padang Panjang.

Menyimak perjalanan Hamka dari semenjak mudanya, kita dibuat terkagum-kagum dengan semangat belajar dan kecepatan beliau mengambil pelajaran dimanapun dan dari siapapun. Hamka di Yokya tak lebih dari 6 bulan, tapi pelajaran yang bisa beliau ambil dari perjalanan pendek itu sangat mengagumkan.

Keputusan Hamka untuk lebih konsentrasi pada masalah da’wah dan sosial kemasyarakatan, tampaknya cukup dipengaruhi oleh apa yang didapatkannya sewaktu di Yokya. Gerakan sosial Muhammadiyah lebih menarik bagi Hamka dibanding gerakan politik Syarikat Islam.

Buku-buku yang ditulis Hamka dalam masalah sosial dan politik Islam kalau diamati dengan seksama akan tampak pengaruh pemikiran H.O.S Cokroaminoto di dalamnya. 6 bulan di Yokya yang tak lebih dari satu semester perkuliahan saat ini bagi Hamka setara dengan perkuliahan 148 SKS.

Pertanyaan akan muncul, bagaimana cara Hamka belajar?, apa yang menyalakan semangat belajar Hamka?, faktor eksternal atau internalkah yang lebih memotivasi Hamka untuk menuntut ilmu.

Jawaban terhadap pertanyaan diatas mungkin akan membantu usaha melahirkan Hamka Hamka baru di masa yang akan datang. Karena pendidikan formal tak mampu melahirkan manusia sekaliber Hamka sampai saat ini.