Definisi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib Al- Attas

I.    Pendahuluan
A.    Latar belakang masalah
Permasalahan definisi ilmu adalah salah satu permasalahan mendasar yang perlu mendapat perhatian penuh dari para sarjana muslim karena hal ini akan berimplikasi pada pilihan sistem pendidikan , kurikulum, dan metode pembelajaran.
Mendefinisikan sesuatu atau objek ilmu pengetahuan merupakan suatu kegiatan intelektual yang sangat dihargai oleh semua aliran pemikiran dalam Islam. Syed Muhammad Naquib Al- Attas menjelaskan bahwa salah satu indikasi kebangkrutan intelektualitas kalangan muslim modernis adalah ketiadaan ilmu mengenai bagaimana cara mendefinisikan sesuatu dengan cara-cara yang wajar, sedangkan ilmu yang seperti ini adalah ciri utama dan merupakan salah satu pencapaian terbesar tradisi intelektual Islam.
Syed Muhammad Naquib Al- Attas berkeyakinan bahwa permasalahan mendasar berkaitan dengan lemahnya persatuan dan kesatuan umat Islam bisa diselesaikan jika terdapat kesatuan pemahaman di antara sarjana muslim mengenai ide-ide dan konsep-konsep fundamental yang berkaitan dengan Islam dan peradaban umat .
B.    Rumusan masalah
Makalah ini akan membahas masalah-masalah sebagai berikut:
1)    Apa devinisi ilmu secara linguistic
2)    Apa definisi ilmu menurut ilmuwan muslim
3)    Apa devinisi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas

C.    Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan seputar definisi ilmu, definisi ilmu secara linguistic, definisi ilmu menurut ilmuwan muslim, dan definisi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Tulisan ini diharapkan bermanfaat untuk mengembangkan wawasan penulis dan pembaca tulisan ini berkaitan dengan permasalahan ilmu di dalam Islam.
II.    Pembahasan
A.    Biografi singkat Syed Muhammad Naquib Al- Attas
Syed Muhammad Naquib Al- Attas lahir di Jawa Barat, Indonesia, 5 september 1931. Ibundanya,  Syarifah Raquan Al- ‘Aydarus, berasal dari Bogor, Jawa Barat. Bapaknya,  Syed Ali Al- Attas adalah anak dari Ruqayah Hanum, seorang wanita Turki berdarah aristokrat yang menikah dengan Ungku Abdul Majid, adik sultan Abu Bakar dari Johor, (w. 1895).
Pada usia lima tahun Syed M. Naquib Al Attas dikirim ke Johor untuk belajar di sekolah dasar Ngee Heng (1936-1941). Pada masa pendudukan Jepang, dia kembali ke Indonesia untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Al- Urwatu Al- Wutsqa’, Sukabumi (1941-1945), sebuah lembaga pendidikan yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Tahun 1946 , Syed M. Naquib Al- Attas kembali ke Johor untuk merampungkan pendidikannya di Bukit Zahrah School dan English Colloge (1946-1951).
Setelah menamatkan sekolah menengah, tahun 1951, Al- Attas mendaftar di resimen Melayu sebagai kadet dengan nomor 6675. Al Attas kemudian dipilih untuk mengikuti pendidikan mileter, pertama di Eton Hall, Chester, Wales, kemudian di Royal Military Academy, Sandhurst, Inggris (1952-1955). Selama di Inggris Al- Attas berusaha memahami aspek-aspek yang mempengaruhi semangat dan gaya hidup masyarakat Inggris.
Setamat dari Sandhurst, Al- Attas bertugas sebagai pegawai kantor di resimen tentara kerajaan Malaya, Federasi Malaya. Minatnya yang kuat untuk menggeluti dunia ilmu pengetahuan mendorongnya untuk berhenti secara suka rela sebagai pegawai dan memasuki Universitas Malaya, ketika itu terletak di Singapura, tahun (1957-1959). Al- Attas  telah menulis dua buah buku ketika masih menyelesaikan program SI di Universitas Malaya. Buku pertama berjudul Rangkaian Ruba’iyat, buku kedua berjudul Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays, diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Sosialogi Malaysia pada tahun 1963.
Sebagai penghargaan atas bukunya yang kedua, pemerintahan Kanada, melalui Canada Council Fellowship memberinya bea siswa untuk belajar di Institut of Islamic Studies, Universitas McGill, Montreal, Kanada, selama tiga tahun, tahun 1960-1962. Al- Attas meraih gelar M.A dari Universitas McGill tahun 1962 setelah tesisnya yang berjudul Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh, lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.
Tahun 1965 Al-Attas meraih gelar Ph.D. dari Universitas London, setelah disertasinya yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fanshuri lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.
Al-Attas adalah pembicara dan peserta aktif dalam Konferensi Dunia Pertama mengenai Pendidikan Islam ( First World Conference on Islamic Education) di Makkah tahun 1977, dan dia ditunjuk untuk memimpin komite yang membahas tujuan dan definisi pendidikan Islam.
Dia telah menyampaikan 400 makalah ilmiah di Negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, Timur Jauh, dan di beberapa Negara Islam. Itulah sekelumit perjalanan hidup dan perjalanan intelektual salah seorang ilmuwan muslim terkemuka di dunia.

B.    Defininisi ilmu secara linguistik
Secara linguistik, kata ‘ilm berasal dari akar kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari kata ‘alamah yang berarti tanda, penunjuk, indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal, kognisi, label, cirri-ciri, dan tanda-tanda. Dengan demikian , ma’lam berarti rambu-rambu, atau sesuatu yang membimbing seseorang. Seiring dengan itu, ‘alam juga bisa diartikan sebagai penunjuk jalan. Itulah sebabnya kata ayat dalam Al Quran yang secara literal  berarti tanda, merujuk pada ayat-ayat Al Quran dan fenomena alam. Disebabkan hal diatas, umat Islam sejak dahulu menganggap ‘ilm berarti Al Quran, syariat, sunnah, Islam, iman, ilmu spiritual, hikmah, ma’rifah, cahaya, fikiran, sains, dan pendidikan, yang semuanya menghimpun seluruh hakekat ilmu. Inilah yang menjadi dasar umat Islam dalam mendefinisikan ilmu secara deskriptif .

C.    Definisi ilmu menurut ilmuwan muslim
Salah satu definisi ilmu secara deskriptif dikemukakan oleh Al – Baqillani, ilmu menurut beliau adalah “pencerapan objek yang diketahui sebagaimana adanya”. Al Amidi mengkritik definisi ilmu yang dikemukakan oleh Al- Baqillani ini dalam bukunya Abkar Al- Afkar . Al-Baqillani berpendapat bahwa definisi ilmu menurut Al-Amidi tidak inklusif karena tidak mencakup ilmu Tuhan, dan bersifat tautologi, karena objek yang diketahui itu lebih kabur daripada ilmu itu sendiri.
Wan Mohd Wan Daud mengkritisi kritikan Al- Amidi terhadap definisi ilmu dari Al-Baqillani, beliau menjelaskan bahwa ilmu Allah bukanlah ma’rifah. Setiap muslim yang dewasa dan berakal mengetahui bahwa bahwa ilmu Allah tidak terbatas, sesuai dengan diriNya yang tidak terbatas, oleh karena itu mustahil mendefinisikan atau membatasi ketidakterbatasan ilmu Allah SWT. Sedangkan mengenai kekaburan sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Amidi, sebenarnya adalah sesuatu yang relative, bergantung pada istilah yang dipilih oleh orang yang mendefinisikan ilmu secara deskriptif .
Definisi ilmu secara deskriptif juga dikemukakan oleh Abu Bakar Ibnu Furak, Ibnu furak berpendapat bahwa ilmu adalah “ sesuatu yang dengannya seseorang yang memilikinya mampu bertindak dengan baik dan benar”. Al –Amidi  mengkritik definisi ilmu yang dikemukakan Ibnu Furak ini karena semata-mata merefleksikan aspek-aspek deskriptif dari suatu definisi . selanjutnya Al-Amidi menyangkal adanya kemungkinan bahwa ilmu mengenai diri kita, Allah SWT, dan perkara-perkara yang abstrak akan memberi kita kemampuan untuk bertindak dengan benar.
Setelah mengkritik beberafa definisi ilmu diatas, Al-Amidi berpendapat bahwa ilmu bisa didefinisikan dengan batasan sebagai berikut: ilmu adalah sifat yang dengannya jiwa orang yang memiliki sifat ini bisa membedakan realitas yang tidak tercerap oleh indra-indra jiwa, hingga menjaganya dari derita, ketika itu, ia sampai pada kondisi yang tidak memungkinkan sesuatu yang dibedakan itu berbeda dari cara-cara yang darinya perbedaan itu diperoleh”.

D.    Definisi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas
Al-Attas menyadari sepenuhnya bahwa mendefinisikan ilmu secara batasan adalah sesuatu yang mustahil, karena itu dia mengajukan definisi ilmu secara deskriptif. Definisi ilmu secara deskriptif yang dikemukakan oleh Al-Attas berdasarkan premis bahwa ilmu datang dari Allah dan diperoleh oleh jiwa yang kreatif. Al-Attas membagi definisi ilmu secara deskriptif menjadi dua bagian. Pertama ilmu adalah sesuatu yang berasal dari Allah, bisa dikatakan bahwa ilmu itu adalah datangnya makna sesuatu atau objek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu. Kedua, ilmu adalah sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, bisa dikatakan bahwa ilmu adalah sampainya jiwa pada makna sesuatu atau objek ilmu.
Konsep  penting yang terdapat dalam definisi, epistemology, dan filsafat pendidikan Al-Attas adalah kedatangan, yaitu proses yang disatu pihak memerlukan mental yang  aktif dan persiapan spiritual, dipihak lain keridhaan dan kasih-sayang Allah SWT sebagai zat yang memberikan ilmu. Definisi ilmu yang ditawarkan Al-Attas mengisyaratkan bahwa pencapaian ilmu dan pemikiran, yang juga disebut proses perjalanan jiwa kepada makna, adalah sebuah proses spiritual. Realitas makna yang independen ini dengan sendirinya menjadikan ilmu yang dicari lebih dari sekedar kumpulan fakta, ketrampilan, atau sikap-sikap pribadi, seperti yang sekarang sedang popular di dunia pendidikan, miskipun tidak dapat dinafikkan bahwa ilmu terdiri dari salah satu atau kombinasi dari ketiganya.
Al-Attas menerima deskripsi yang berlaku bahwasanya ilmu adalah kepercayaan yang benar. Miskipun demikian , dia juga mengatakan bahwa kepercayaan yang benar itu dalam perspektif Islam bukan hanya suatu proposisi, melainkan juga sesuatu yang bersifat intuitif, yaitu salah satu aspek dari kapasitas intelektual manusia. Ilmu mengenai Allah misalnya, tidak dapat dibatasi oleh proposisi-proposisi dan disimbolkan dalam bentuk-bentuk linguistic yang mendeskripsikan Nama-Nama dan Sifat-Sifatnya. Pada tingkat yang lebih tinggi, ilmu mengenai Allah adalah pengalaman ketika seseorang bersatu dengan Realitas , dan inilah arti sebenarnya dari ilmu ini.

III.    Kesimpulan
1)    Ilmu secara linguistic berarti Al Quran, syariat, sunnah, Islam, iman, ilmu spiritual, hikmah, ma’rifah, cahaya, fikiran, sains, dan pendidikan, yang semuanya menghimpun seluruh hakekat ilmu .
2)    Ada perbedaan definisi ilmu secara batasan di kalangan ilmuwan muslim, tapi mereka sepakat bahwa ilmu di dalam Islam membimbing orang yang mendapatkannya untuk melakukan segala sesuatu dengan baik dan benar.
3)    ilmu secara deskriptif yang dikemukakan oleh Al-Attas berdasarkan premis bahwa ilmu datang dari Allah dan diperoleh oleh jiwa yang kreatif. Al-Attas membagi definisi ilmu secara deskriptif menjadi dua bagian. Pertama ilmu adalah sesuatu yang berasal dari Allah, bisa dikatakan bahwa ilmu itu adalah datangnya makna sesuatu atau objek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu. Kedua, ilmu adalah sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, bisa dikatakan bahwa ilmu adalah sampainya jiwa pada makna sesuatu atau objek ilmu.

Demikianlah sekilas pandangan sebagian ilmuwan muslim berkaitan dengan definisi ilmu.Semoga tulisan singkat yang membicarakan definisi ilmu menurut Syed M. Naquib Al Attas ini memberi manfaat bagi penulis dan orang-orang yang membacanya.
Daftar Rujukan :

Nor Wan Daud, Wan Mohd, 1998, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Syed M. Naquib Al Attas, Mizan, Bandung
Ravertz, R,Jerome, 2009, Filsafat Ilmu, Sejarah dan Ruang lingkup Bahasan, Pusataka Pelajar, Yogyakarta
Soleh, Khudari, 2004, Wacana baru Filsafat Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s