Mungkinkah Saat ini Melahirkan Insan Kamil Melalui Lembaga Pendidikan Formal?

Secara umum, tujuan pendidikan ada dua, pertama bertujuan untuk kemasyarakatan, dalam arti untuk mewujudkan individu yang mampu memenuhi tuntutan yang ada di tengah masyarakat dalam upaya menciptakan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan,  kedua bertujuan untuk melahirkan manusia yang baik yaitu manusia yang memiliki kesadaran dan pemahaman yang kuat tentang eksistensi Allah sebagai Rab Al-Alamin, dan realitas kehidupan, serta tujuan dan tugas kehidupannya. Figur utama manusia yang baik adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah suri tauladan utama bagi siapa saja yang menginginkan kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Pada dirinya terdapat sifat-sifat mulia yang menjadi dambaan setiap manusia yang mencintai kebaikan. Muhammad adalah seorang yang dikenal sangat jujur dalam perkataan dan perbuatan. Muhammad sangat bisa dipercaya, ia mampu memegang teguh kepercayaan dengan penuh tanggung jawab. Muhammad juga sangat cerdas, baik intelektual, emosional, apalagi spritual. Ia juga seorang komunikator yang sangat brilian, mampu mengkomunikasikan ide-ide besar dan pemikiran-pemikiran agung secara sederhana dan sangat mudah dipahami oleh semua orang. Muhammad adalah pemimpin yang bijaksana, panglima perang yang gagah berani, namun sangat penyantun dan penuh belas kasih terhadap orang-orang lemah. Hanya dalam dua puluh tahun lebih, dengan izin Allah, beliau telah berhasil menghadirkan suatu masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan. Sosok seperti beliau sering disebut oleh para ulama dan cendekiawan muslim sebagai insan kamil.
Kini, kehadiran sosok insan kamil sungguh sangat dirindukan oleh hampir semua kalangan. Ketika krisis multi dimensional nyaris melalap habis hampir semua sendi kehidupan masyarakat yang baik, sosok insan kamil diharapkan bisa menjadi solusi. Saat ini masyarakat bingung dan tidak tahu arah, kemana harus mencari orang yang jujur, bisa dipercaya, cerdas, komunikatif, berani dan sangat penyayang kepada orang-orang yang lemah lagi tertindas. Sosok yang banyak ditemukan oleh masyarakat saat ini adalah sosok yang pembohong, lain di hati lain di lidah, sebelum berkuasa katanya akan menegakkan keadilan bagi semua, setelah berkuasa ternyata ia hanya mampu berlaku adil pada dirinya dan orang –orang terdekat.
Harapan masyarakat banyak tertumpah kepada lembaga pendidikan formal. Lembaga pendidikan formal diharapkan mampu melahirkan sosok insan kamil. Namun harapan tersebut nyaris seperti orang mengantang asap, yang dihitung banyak, tapi yang didapat hanyalah fatamorgana. Kondisi lembaga pendidikan formal di Indonesia saat ini secara umum sungguh sangat memprihatinkan. Realitas yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar lembaga pendidikan formal lebih banyak menyibukkan diri dengan segala hal yang berkaitan dengan kesuksesan siswa-siswinya dalam menghadapi ujian nasional. Bahkan tidak sedikit lembaga pendidikan formal yang kehilangan rasa percaya diri, sehingga terpaksa minta bantuan kepada lembaga lembaga bimbingan belajar yang memang sangat marak saat ini. Kondisi tersebut di atas semakin parah, ketika guru-guru yang diharapkan akan memberi pendidikan yang baik tidak peduli lagi dengan upaya pembentukan karakter anak didiknya melalui internalisasi nilai-nilai kebaikan dan ketauladanan. Kisah tentang guru yang membantu anak didiknya untuk menjawab soal  dalam ruang ujian bukan lagi cerita yang aneh. Materi pelajaran di lembaga pendidikan formal lebih banyak memberi penekanan pada dimensi material, tapi abai pada materi yang berdimensi emosinal dan spritual. Lingkungan belajar juga sangat memprihatinkan, tontonan yang sarat dengan pemuasan syahwat rendah, sadisme, mistisisme, dan ajakan untuk bersikap permisif dan hedonis hampir setiap waktu menjadi tontonan dan tuntunan bagi anak-anak dirumah. Minuman keras dan bacaan porno, bahkan narkoba sangat mudah diakses oleh anak-anak.    orang tua tidak memiliki kesadaran akan pentingnya pedidikan karakter bagi anak-anaknya atau mengira bahwa sekolah sudah memberikan pendidikan karakter kepada anak-anaknya, sehingga mereka bisa berlepas tanggung jawab.
Mencermati kondisi lembaga pendidikan formal saat ini, sebuah pertanyaan muncul, mungkinkah sosok insan kamil lahir melalui lembaga pendidikan formal. Kalau tidak mungkin, apa yang perlu dilakukan bangsa ini supaya tidak menjadi bangsa yang terbelakang dan tertindas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s